Senin, 21 Oktober 2013

Karya PUISI



Kumpulan Puisi Karya Eka Rahayu
coretan puisi




Sang Baja
 ( Oleh Eka Rahayu )

Jajaran tinggi di tepi jalan
Di jumpai pada setiap perempatan
Berdiri tegak menatap hamparan jalan yang membentang
Menghardik setiap penggunanya yang datang

Kilauan cahaya memantulkan panasnya dimuka
Terbakar bagai zat yang tak seharusnya disatukan
Membentuk warna kusam dan merah dironanya
Siap menggasak dan menerkam pelanggar jalan raya

Berdiri di perempatan jalan
Untuk negeri kau mengabdi
Berjajar bagai pagar beton
Mampu membuat kawat menjadi korosi

Berdiri gagah di tengah jalan
Mengatur kendaraan yang lalu lalang
Tetap berdiri tegap dan tanpa haluan
Mata tajam bagaikan seekor elang yang siap menerjang

Kulit gelap bagai sebuah tembaga
Yang mengkilap membuat terlihat perkasa
Petugas negara yang melindungi semua rakyatnya
Pahlawan bangsa yang berjasa menolong sesama.






Pelindung Negara
 (oleh Eka Rahayu)

Jajarantinggi di tepijalan
Dijumpaipadasetiapperempatanjalanan
Berdiritegakmenataphamparanjalan yang membentang
Menghardiksetiappenggunanya yang datang

Kilauancahayamemantulkanpanasnyadimuka
Terbakarbagaisuatuzat yang takseharusnyadisatukan
Membentukwarnakusamdanmerahdironanya
Dan sulitjikainginmenghilangkan

Selalusajadilakukansetiapsaatolehmu
Adakalapenggunaitumelarikandiridarimu
Kalian adalahikatankovalen yang harusdisatukan
Untukmembongkarkelalaian yang dilakukan

Lakukanituwalaupunkadangtakdisukai
Karenaitu demi masadepanmudanbangsaini
Janganlalaikanperjalanhidupini
Dan harapanini, kami tujukanpadamuuntukdijalani


  

  IBU
(oleh Eka Rahayu)

Ibu...
Saat ini ku tak dapat membalas semua pengorbanan mu
Hal yang dapat ku rangkai adalah kata maaf untuk mu
Kau mampu menyejukkan hatiku walau terkakadang
Sikap ku perkataan ku menyinggung perasaanmu

Tutur kata mu selembut salju
Yang mampu mencairkan batu yang membeku
Kau laksana embun di gurun sahara
Yang mampu memadamkan api yang membara
Kasih sayang mu tiada tara
Bagaikan malaikat tanpa jasa


Segurat Bayangan Tua
  (olek Eka Rahayu)


Teduhnya sore ini hampir menampakkan kemuning senjanya
mengaburkan lamunan yang sesekali menciptakan kebisuan
ada segurat bayangan tua dibenakku
mengintaiku seolah ingin menghancurkan puing-puing lamunan itu
sebuah bayangan klise tersenyum dengan kerut di pipinya

Oh Tuhan
senyum itu adalah senyum yang dulu biasa ku lihat setiap saat
senyum yang slalu bisa ku miliki
dan senyum dari seseorang yang selalu mampu buat hati ini bergetar

ayah
aku tau, kau datang untuk menjenguk ku
Memastikan keadaan ku
Meskipun hadirmu hanya dalam bentuk klise
tapi aku tetap merasa kau nyata






Bendera Kami
     (Oleh Eka Rahayu)


Bendera itu milik siapa?
dua warna yang menyatu oleh sejarah
dua warna berdamping
mencuatkan keberanian dan kesucian hati
apalagi yang terhebat selain itu?

sempat warna biru mengganggu
pongah mengangkasa
kami tak rela ... tersobek pada akhirnya
walau banyak jiwa melayang karenanya
keberanian dan kesucian hati
apalagi yang terhebat selain itu?

Pulau-pulau kami berserak
laut-laut kami menggulung berarak
waktu menguji dengan asap hitam menoda diantaranya
namun angka 17 bulan Agustus tetap menjadi keramat
ketika semua angkara terungkap
dan bendera itu khidmat menuju puncak

keberanian dan kesucian hati
apalagi yang terhebat selain itu
bendera itu milik kami
Merah putih ku







3 komentar: